PENGETAHUAN
BAHAN PANGAN
UBI KAYU
Disusun oleh:
1.
Hussain V.F ( 1533010011 )
2.
Dewi Putri. P ( 1533010028 )
3.
Mega Lelita .P ( 1533010032 )
4.
Ni’matul K. ( 1533010048 )
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNGAN NASIONAL ”VETERAN”
JAWA TIMUR
MEI 2016
BAB
1
PENDAHULUAN
Bidang pangan telah menjadi aspek
yang penting karena berkaitan erat dengan kebutuhan pokok masyarakat. Pada
umumnya, masalah yang berkaitan dengan pangan dapat menjadi hal mendasar yang
berdampak secara sistemik dalam kebutuhan masyarakat.Indonesia dikenal sebagai
salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun ironisnya, Indonesia hanya mengandalkan
satu jenis tanaman sebagai sumber pangan utamanya, yaitu beras. Sebagian besar
penduduk mengkonsumsi beras, sehingga seiring dengan terus naiknya jumlah
penduduk, semakin meningkat pula kebutuhan akan beras. Ditambah dengan seringkali
mengalami kendala dalam penyediaan beras yang disebabkan oleh berbagai macam masalah.
Perubahan iklim merupakan ancaman yang sangat potensial terhadap stabilitas
ketahanan pangan karena sektor pertanian sangat rentan terhadap perubahan
iklim. Kapasitas pemenuhan pangan terutama beras di Indonesia juga kurang
sehingga menghambat penyediaan kebutuhan beras bagi masyarakat.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka
menyediakan pemenuhan kebutuhan pokok dalam bidang pangan di Indonesia. Salah
satu upaya yang dilakukan yakni memanfaatkan umbi-umbian terutama yang
mengandung karbohidrat yang tinggi sebagai makanan pengganti makanan pokok di
Indonesia. Langkah pemanfaatan umbi-umbian ini merupakan langkah alternatif
dalam menyediakan kebutuhan pangan di Indonesia sebagai sumber karbohidrat.
Dengan langkah alternatif ini, masyarakat dapat mengkonsumsi beberapa makanan
pokok lainnya apabila kebutuhan akan beras tidak terpenuhi. Pemanfaatan
umbi-umbian di Indonesia masih tergolong jarang dan tidak menyeluruh
dimanfaatkan karena beberapa umbi-umbian yang sering dimanfaatkan merupakan
umbi-umbian yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Umbi-umbian yang kurang
populer menjadi kurang dimanfaatkan sebagai bahan pangan atau menjadi produk
tertentu. Walaupun beberapa umbi-umbian telah dimanfaatkan tetapi kurang
dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai lebih. Padahal, hal tersebut
sangat menunjang ketahanan pangan dalam rangka diversifikasi pangan di
Indonesia yang terkenal kaya akan berbagai macam sumber daya alam baik dari
pertanian, perkebunan, kehutanan dan lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI UMBI-UMBIAN
`Umbi-umbian adalah bahan nabati yang diperoleh dari dalam tanah.
Umumnya, tanaman ini dapat tumbuh baik di daerah yang kesuburan tanahnya kurang
baik dan pengairannya kurang bagus. Hal yang terpenting, tanahnya diolah
terlebih dahulu agar gembur, sehingga umbi dapat tumbuh dengan sempurna. Jika
ditanam di tanah yang subur, umumnya pertumbuhan daunnya lebih pesat.
Tanaman obat jenis umbi-umbian antara lain bawang putih, bangle,
bidara upas, dringo, jahe, kencur, kunci, kunyit, lengkuas, lempuyang wangi,
talas, temu giring dan temu lawak. Umbi merupakan satu organ yang merupakan
modifikasi sari organ lain dan berfungsi sebagai penyimpan zat tertentu (
umumnya karbohidrat ). Organ yang dimodifikasi dapat berupa daun, batang, atau
akar. Bentuk modifikasi ini biasanya terbentuk tepat di bawah permukaan tanah.
Umbi-umbian dapat dibedakan berdasarkan asalnya yaitu umbi
akar,dan umbi batang. Sebenarnya keduannya merupakan tempat yang digunakan
untuk menyimpan makanan cadangan. Yang termasuk umbi akar misalnya ubi kayu dan
bengkuang, sedangkan umbi batang misalnya ubi jalar, kentang dan gadung. (Mutmainah,dkk,2016).
2.2 UBI KAYU
Ubi kayu atau singkong berasal dari Brazilia. Dalam sistematika
tumbuhan, ubi kayu termasuk ke dalam kelas Dicotyledoneae. Ubi kayu berada
dalam famili Euphorbiaceae yang mempunyai sekitar 7.200 spesies, beberapa
diantaranya adalah tanaman yang mempunyai nilai komersial, seperti karet (Hevea
brasiliensis), jarak (Ricinus comunis dan Jatropha curcas), umbi-umbian
(Manihot spp), dan tanaman hias (Euphorbia spp).
Klasifikasi
tanaman ubi kayu adalah sebagai berikut:
Kelas
: Dicotyledoneae
Sub
Kelas : Arhichlamydeae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Sub
Famili : Manihotae
Genus : Manihot
Spesies :
Manihot esculenta Crantz
Ubi kayu merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang menjadi
sumber bahan baku utama pembuatan bioetanol karena mempunyai kemampuan untuk
tumbuh di tanah yang tidak subur, tahan terhadap serangan hama penyakit dan
dapat diatur masa panennya. Ubi kayu merupakan sumber karbohidrat karena kandungan
patinya yang cukup tinggi. Ubi kayu merupakan umbi atau akar pohon yang panjang
dengan rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari
jenis ubi kayu yang ditanam.( Susilawati,2008)
Sifat kimia ubi kayu ditentukan oleh sifat pati sebagai komponen
utama dari ubi kayu(Simanjuntak,2006)
A. Kadar Pati
Peningkatan kadar pati disebabkan
semakin lama panen ubi kayu, maka semakin banyak ganula pati yang terbentuk di
dalam umbi.Penurunan kadar pati ubi kayu diduga akibat
meningkatnya komponen-komponen non pati seperti selulosa, hemiselulosa, pektin
dan lignin. Peningkatan komponenkomponen non pati tersebut disebabkan
terjadinya degradasi komponen non pati dan penurunan kadar pati.
B. Kadar
Air
Kadar air pati mengalami perubahan dengan
bertambahnya umur panen. Semakin tinggi umur panen ubi kayu maka semakin rendah
kadar air yang diperoleh. Hal ini disebabkan karena ubi kayu yang memiliki
kadar air rendah bersifat higroskopis sehingga cenderung berjalan lebih lambat
diakibatkan telah mengalami titik jenuh penyerapan air. Bahan baku yang memiliki
kadar air lebih rendah dibandingkan dengan yang lainnya akan menghasilkan
produk yang mengandung kadar air yang lebih tinggi.
C. Kadar
Amilosa
kadar amilosa tertinggi pada ubi kayu
yang berumur panen 8 bulan kemudian menurun seiring dengan bertambahnya umur
panen. Diduga penurunan kadar amilosa disebabkan amilosa yang terkandung
didalam pati tersebut mengalami titik jenuh.Tingginya kadar amilosa pada ubi kayu
disebabkan karena ubi kayu tersebut memiliki kandungan pati tinggi dan pati
tersebut memiliki rantai α 1,4 Dglikosida yang lebih panjang. Semakin panjang rantai
α 1,4 D-glikosida yang terkandung didalam pati, maka semakin tinggi kadar amilosa
yang terkandung didalamnya
Bagian-bagian dari ubi kayu
terdiri dari akar,batang dan daun,bunga dan buah, serta bibit. Akar pada ubi
kayu berguna untuk menghisap zat-zat makanan dari dalam tanah, untuk
mengukuhkan tegaknya batang pohon, sebagai gudang tempat menyimpan makanan.
Batang ubi kayu akan menjadi tanaman baru,bila dicocokan di tanah. Batang ubi
kayu sangat berguna, yaitu dijadikan bibit untuk ditanam dan mendapatkan
tanaman baru. Daun tanaman ubi kayu terdiri dua bagian, yaitu tangkai dan helai
daun yang bangunnya seperti tangan. Bunga pada ubi kayu akan keluar jika batang
ubi kayu bercabang dan biasanya cabangnya tiga buah. Pada celah cabang yang
ketiga itulah tempat keluarnya bunga. Bunga betina pada ubi kayu akan berubah
menjadi buah. Bentuk buahnya perseegi enam. Bila buah telah masak akan pecah
dan biji-bijinya keluar terpelenting. Pada ubi kayu hanya batangnya yang
dijadikan bibit. Batang ubi kayu yang bertunas, bila ditanam tunasnya akan
tumbuh menjadi tanaman yang baru. Jika menanam ubi kayu harus dipilih bibit
yang benar-benar baik dan unggul, antara lain:
1.
Batang yang tua, berumur satu tahun lebih.
2.
Ukuran garis tengah batangnya besar.
3.
Bentuk batang lurus,tidak bengkok.
4.
Bagian pangkal batang dan tiddak yang masih
hijau (Nuryani,1991).
Tanaman ubi kayu mempunyai 2 macam akar, yaitu
akar yang berbentuk fibrous dan akar yang membesar yang kemudian disebut ubi.
Akar yang pertama (fibrous) berfungsi untuk mengabsorbsi air dan hara,
sedangkan akar yang kedua (berbentuk ubi) berfungsi sebagai organ penyimpan
karbohidrat dalam bentuk pati. Akar yang berbentuk ubi berkembang sampai
kedalam sekitar 30 cm, dan kemampuan untuk mengabsorbsi air dan hara menurun
secara tajam. Kandungan pati pada ubi bervariasi antara 80-90% dari berat
kering ubi, tapi sangat cepat mengalami kerusakan, dan faktor inilah yang
merupakan salah satu pembatas dalam penggunaan ubi kayu untuk bahan baku
industri (Islami,2015)
Akar yang berfungsi sebagai penyimpan hasil
asimilasi, yang kemudian disebut ubi, terbentuk karena adanya aktivitas
cambiumdan deposisi pati pada jaringan xylem sekunder. Akar ubi kayu yang
berfungsi sebagai organ penyimpanan ini secara fisiologis tidak aktif dan tidak
dapat digunakan sebagai bahan tanam. Tidak semua akar yang memebesar akan
berkembang menjadi ubi. Pada irisan melintang akar muda sebelum mengalami
penebalan sekunder terlihat susunan anatomi dari bagian luar adalah: jaringan
epidermis, jaringan cortex, parenchyma dalam lengkap dengan phloem dan xylem
(Islami,2015)
Jumlah akar yang berfungsi sebagai penyimpan
pati dipengaruhi oleh: genotype, suplai asimilat, adanya naungan, photoperiod
dan temperature. Jumlah dan berat ubi bervariasi antar cultivar. Pada umumnya
jumlah ubi bervariasi dari 4-8 ubi/penanaman, tetapi dengan pengelolaan yang
baik ada varitas tanaman ubi kayu dapat menghasilkan ubi lebih dari 20
ubi/tanaman (Islami,2015).
Pada tanaman ubi kayu ada
pula penyakitnya yang disebabkan oleh hama dan bibit penyakit lain, diantaranya
(Nuryani,1991):
1.
Kutu daun
Kutu
daun yang sangat kecil masih dapat dilihat dengan mata. Warnanya ungu dan termasuk
sebangsa laba-laba. Biasanya hama ini menempel di antara tulang-tulang daun dan
berbahaya bagi daun-daunan, karena menghisap air daun. Daun yang dirusak
mula-mula kelihatan bercak-bercak merah, kemudian menjadi kuning dan akhirnya
luruh.
Hama
tersebut biasanya berkembang pada musim kemarau dan ketika sedikit tururn
hujan. Pada saat itulah binatang itu sangat berbahaya, karena tanaman tidak
dapat banyak menghisap makanan dari tanah. Sedang dalam musim penghujan
binatang itu tidak akan merusak tanaman. Mula-mula yang dirusak daun bagian
bawah, kemudian menjalar ke bagian atas. Bila daun pucuk telah dirusak, tidak
ada harapan pohon ubikayu dapat bertahan hidup. Bila penyakit tampak mulai
berjangkit, harus segera diberantas dengan obat insektisida.
2.
Lundi
Lundi
ialah anak kumbang. Binatang ini banyak terdapat di daerah-daerah-daerah yang
musim kemaraunya panjang dan tanahnya berpasir. Lundi cukup berbahaya, karena
memakan akar atau umbi tanaman. Tanaman yang diserang lundi mula-mula daunnya
layu dan biasanya tidak lama kemudian pohon akan mati.
2.3
KANDUNGAN GIZI
Ubi
kayu dapat mencukupi 50% kebutuhan kalori atau 90 % kebutuhan kalori berupa
karbohidrat bagi penduduk di negara – negara afrika tengah. Di Indonesia dapat
memenuhi 15% kebutuhan kalori total atau 31% kebutuhan kalori berupa
karbohidrat.( Simanjuntak,2006)
Berdasarkan
susunan kimia ketela pohon (ubi kayu) Tabel 3. ubi kayu juga mengandung
protein, lemak dan zat tepung, serta serat dibandingkan dengan kentang dan
beras. Sehingga dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan pengganti beras.
Tabel
4 Susunan Zat
Dari tabel 4
dapat dilihat bahwa berdasarkan susunan zat padat ubi kayu mengandung kalori
yang cukup tinggi, mengandung karbohidrat dan vitamin B dan C serta serat yang
cukup jika dikonsumsi sebagai bahan pangan pengganti beras.
Dari Tabel 5 dan
6 dapat dilihat bahwa kandungan gizi maupun nutrisi ubi kayu dibandingkan ubi
jalar mengandung mineral dan vitamin C dan karbohidrat yang cukup tinggi dan
juga sebagai sumber energi yang tinggi. ( Simanjuntak,2006)
2.4 JENIS-JENIS UBI KAYU
Macam-macam varietas
singkong unggul menurut jenisnya adalah sebagai berikut ( Widyastuti,2012 ):
1.
Singkong Adira I
Singkong adira I
pada umumnya mempunyai kulit luar yang berwarna coklat, serta kulit bagian yang
dalam berwarna kuning. Warna daging singkong berwarna kuning. Singkong adira I
dapat dipanen dalam waktu 7-10 bulan. Singkong adira I jika direbus akan
menghasilkan rasa yang enak dan empuk.
2.
Singkong Adira II
Singkong adira
II pada umumnya mempunyai kulit luar yang berwarna putih kecoklatan, serta
kulit bagian dalam berwarna ungu. Warna daging singkong berwarna putih.
Singkong adir II dapat dipanen dalam waktu 7-10 bulan. Singkong adira II jika
direbus akan menghasilkan rasa yang agak pahit dan empuk.
3.
Singkong Malang I
Singkong malang
I pada umumnya mempunyai kulit luar yang berwarna coklat muda, serta kulit
bagian yang dalam berwarna putih. Warna daging singkong berwarna putih
kekuning-kuningan. Singkong malang I dapat dipanen dalam waktu 9-10 bulan.
Singkong malang I jika direbus akan menghasilkan rasa yang manis dan empuk.
4.
Singkong Malang II
Singkong malam
II pada umumnya mempunyai kulit luar yang berwarna coklat, serta, kulit bagian
yang dalam berwarna putih. Warna daging singkong berwarna putih. Singkong
malang II dapat dipanen dalam waktu 9-10 bulan. Singkong malang I jika direbus
akan menghasilkan rasa yang manis dan empuk.
5.
Singkong Mentega
Singkong mentega
pada umumnya mempunyai bentuk yang lonjong dan bertangkai sedang. Kulit luar
yang berwarna coklat, serta kulit bagian yang dalam berwarna kuning. Warna
daging singkong berwarna kuning. Singkong mentega jika direbus akan
menghasilkan rasa yang manis dan empuk.
Berdasarkan kadar HCN dan tingkat rasa pahit,
tanaman ubi kayu dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu
(i)
Kelompok pahit dengan kadar HCN > 100 ppm,
(ii)
Agak pahit dengan kadar HCN 50-100 ppm.
(iii)
Ubi kayu enak dengan kadar HCN < 50 ppm.
Dalam tabel 7. disajikan beberapa contoh
jenis-jenis atau varietas tanaman ubi kayu unggul yang telah dilepas oleh
Departemen Pertanian, dilengkapi dengan hasil, rasa dan kandungan HCN
(Islami,2015).
Varietas Unggul Ubi Kayu yang Dilepas Sejak Tahun 1987
|
Varietas
|
Hasil (t/ha)a)
|
Rasa
|
Kadar
HCN (ppm)
|
Kadar
Pati (%)
|
|
Adira 1
Adira 2
Adira 4
Malang 1
Malang 2
Darul hidayah
U J 3
U J 5
Malang 4
Malang 6
|
22,0 b)
22,0 b)
35,0 b)
48,7 c)
42,0 c)
102,1 c)
35,0 c)
38,0 c)
39,7 b)
36,4 b)
|
Enak
Agak
pahit
Agak
pahit
Enak
Enak
Enak
Pahit
Pahit
Pahit
Pahit
|
27,5
124,5
68,0
<
40,0
<
40,0
<
40,0
-
-
>
100,0
>
100,0
|
-
-
18,0-22,0
-
-
25,0-31,5
20,0-27,0
19,0-30,0
25,0-32,0
25,0-32,0
|
Tabel 7
Varietas Ubi Kayu
Kandungan HCN pada ubi kayu, digolongkan sebagai berikut (Widyastuti,2012):
-
Tidak beracun : 20-5mg HCN/kg parutan
(contoh : varietas Darawati, Jenten, Jeleca,
Gading, Adira)
-
Beracun sedang : 50-100mg HCN/kg parutan
(contoh : varietas Basiorao, Bogor-lokal,
Mentega, Muara)
-
Sangat beracun : >100 mg HCN/kg parutan
(contoh : SPP, Genjah Sura, Lengkong,
Genderuwo, Tapirucu)
Berikut adalah cara pengamanan untuk menghilangkan HCN
(Widyastuti,2012):
-
Fermentasi
-
Pemanasan
-
Perebusan (air rebusan dibuang)
-
Perendaman/pencucian (air cucian dibuang)
-
Penggorengan dan pengeringan
-
Pemerasan/ekstraksi pati
-
Pengukusan
2.5 KEUNGGULAN
Singkong memiliki banyak manfaat,
diantaranya ( Sandi, 2012 ) :
1.
Dilansir dari Nutrition and You,
singkong memiliki jumlah kalori dua kali lipat dibandingkan kentang. Maka tak
salah jika singkong menjadi salah satu makanan pokok sebagai sumberkarbohidrat.
Dalam 100 gram singkong, mengandung 160 kalori, sebagian besar terdiri dari sukrosa.
2.
Singkong lebih rendah lemak dibandingkan
sereal dan kacang-kacangan. Walaupun begitu singkong memiliki kandungan protein
yang tinggi dibandingkan ubi, kentang dan pisang. Singkong kaya akan vitamin K
yang memiliki peran dalam membangun masa tulang. Sehingga konsumsi singkong
dapat menurunkan risiko osteoporosis. Selain itu, vitamin K akan melindungi dan
berperan penting dalam pengobatan pasien Alzheimer dengan membatasi kerusakan
saraf di otak.
3.
Umbi yang lezat ini merupakan sumber
dari vitamin B kompleks dan kelompok vitaminseperti folates, thiamin,
piridoksin (vitamin B-6), riboflavin, dan asam pantotenat. Riboflavinberperan
dalam pertumbuhan tubuh dan memproduksi sel darah merah untuk mengurangianemia.
4.
Singkong merupakan sumber mineral yang
penting bagi tubuh, antara lain seng, magnesium,tembaga, besi, dan mangan.
Selain itu, singkong memiliki jumlah kalium yang cukup sebagaikomponen penting
pembentukan sel tubuh dan mengatur tekanan darah.
5.
Sebuah penelitian seperti dilansir Affleap
menunjukkan manfaat singkong sebagai penurun kadar kolesterol jahat dalam
darah. Tidak hanya itu, singkong juga dapat menurunkan kadar trigliserida dan
menjadi sumber serat yang bagus. Tak heran jika singkong dapat menurunkanrisiko
penyakit jantung, stroke, kanker usus besar dan membantu mengendalikan
diabetes.Dengan catatan, singkong diolah dengan cara kukus atau rebus.
6.
Singkong merupakan penghasil kalori
terbesar dibandingkan dengan tanaman lain per harinya.
|
No.
|
Jenis
Tanaman
|
Nilai
Kalori (kal/ha/hari)
|
|
1.
|
Singkong
|
250 x 103
|
|
2.
|
Jagung
|
200 x 103
|
|
3.
|
Beras
|
176 x 103
|
|
4.
|
Sorgum
|
114 x 103
|
|
5.
|
Gandum
|
110 x 103
|
Tabel 8 Nilai kalori
berbagai tanaman berbagai tanaman penghasil karbohidrat
7.
Selain mengandung sumber energi berupa
karbohidrat, singkong juga dapat menghasilkan energi berupa bioetanol. Dimana
bioetanol adalah bahan bakar nabati yang yang tak pernah habis selama mentari
masih memancarkan sinarnya, air tersedia dan oksigen berlimpah.sumber bioetanol
yang cukup potensial dikembangkan di Indonesia adalah singkong.
8.
Isi kandungan
gizi dan komposisi nutrisi bahan makanan singkong yaitu mengandung
energi sebesar 154 kilo kalori, protein 1 gram, karbohidrat 36,8 gram, lemak
0,3 gram, kalsium 77 miligram, fosfor 24 miligram, dan zat besi 1,1 miligram.
Selain itu di dalam singkong juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin
B1 0,06 miligram dan vitamin C 31miligram. Hasil tersebut didapat dari
melakukan penelitian terhadap 100 gram Singkong, dengan jumlah yang dapat
dimakan sebanyak 85 %.
- Dapat tumbuh di lahan
kering dan kurang subur.
- Daya tahan terhadap
penyakit relative tinggi.
- Masa panennya tidak
diburu waktu sehingga bias dijadikan lumbung hidup, yakni dibiarkan di
tempatnya untuk beberapa minggu.
- Daun dan umbinya dapat
diolah menjadi gula cair (high fructose) dan makanan ternak.
- Dapat juga untuk bahan
bakar yang disebut ethanol.
2.6
KEKURANGAN
1.
Sifat singkong segar yang mudah rusak
bila tidak segera dilakukan penanganan pasca panen, hal ini dikarenakan kadar
air pada singkong segar yang tinggi.( Askurrahman,2010)
2.
Singkong terdapat asam sianida (HCN)
yang bersifat racun. Singkong mengandung senyawa glukosida sianogenik, yang
tersebar hampir pada semua jaringan tanaman, yang terdiri atas linamarin dan
lotaustrain dengan perbandingan 10:1 (dimana senyawa ini dapat berubah menjadi
sianida yang sangat beracun)(Djazuli dan Bradbury, 1999; Nambisan,1999). Mkpong
et al. (1990), mengatakan bahwa glukosa. Aseton sianohidrin secara spontan
pada pH diatas 5 menghasilkan asam sianida (HCN) danaseton.Beberapa varietas
tertentu dari singkong mengandung banyak cyanogenic glikosida (linamarin dan
lotaustralin) yang dapat dihidrolisis menjasi asam sianida (HCN) oleh enzim
endogen (linamarase) ketika jaringan tanaman rusak selama pemanenan, pengolahan
atau proses mekanis lainnya. (Askurrahman,2010)
3.
Singkong juga mengandung asam tannic,
zat ini yang dapat menimbulkan warna kusam pada produk olahan singkong sehingga
mempunyai nilai jual yang rendah.(Herlina,
2012)
4.
Senyawa poliphenol yang terdapat pada singkong juga dapat menyebabkan
pencoklatan yang mempengaruhi nilai jual singkong. Hal ini desebabkan oksidasi
dengan udara sehingga terjadi reaksi pencoklatan oleh pengaruh enzim yang
terdapat dalam bahan pangan. Pencoklatan yang disebabkan karena enzin pelifenolase
bereaksi dengan oksigen dan suatu senyawa phenol yang dikatalis oleh polifenol
oksidase.(Herlina, 2012)
2.7
MODIFIKASI UBI KAYU
Banyak
cara untuk mengawetkan umbi-umbian. Salah satunya adalah mengolahnya me njadi
tepung atau pati. Setelah menjadi tepung atau pati, konsumen akan lebih mudah
untuk mengolahnya menjadi aneka jenis makanan dan meningkatkan nilai gizinya.
Caranya, dengan mencampurkan tepung atau pati umbi dengan bahan atau tepung
lainnya.
A.
Tepung Tapioka
Tepung
tapioka juga sering disebut tepung aci atau tepung kanji. Tepung tapioka pada
umumnya dibagi menjadi dua, yaitu tapioka halus dan tapioka kasar. Pembuatan
tepung tapioka halus biasanya dari tapioka kasar yang mengalami penggilingan
kembali. Pabrik tepung tapioka kasar sebagai bahan mentah yang dibeli dari pedagang-pedagang
kecil dari desa-desa. Pembuatan tepung tapioka kasar dilakukan dengan memarut
singkong yang telah dikupas dan dicuci. Dengan air yang mengalir, parutan
singkong diperas melalui saringan. Filtrat ditampung dan pemerasan diakhiri
bila filtrat yang ke luar sudah jernih dan larutan dibiarkan mengendap. Endapan
dicuci dengan air dan air pencuci dibuang sampai bersih. Endapan dikeringkan
sampai kering sedangkan ampas singkong yang telah tersangkut di atas seringan
tersebut disebut onggok.
( Marniza,2011
)
Secara
tradisional pembuatan tepung tapioka kasar ini memerlukan jumlah air yang
banyak sekali yaitu untuk mengolah 1 ton singkong segar diperlukan air sebanyak
14.000 – 18.000 liter. Dengan teknologi yang lebih baik jumlah air dapat
dikurangi hingga menjadi 8.000 liter per ton singkong. Kapasitas daripada
setiap industri ini biasanya sekitar 2.0 ton singkong segar per hari yang dapat
menghasilkan rendemen 15 sampai 25 % tapioka kasar dengan kadar air 18 %. Industri
tepung tapioka halus biasanya disebut pabrik tapioka.
Tapioka kasar
yang akan digiling, disortasi dahulu menurut mutunya berdasarkan derajat
keputihan serta kadar kotorannya. Sortasi dilakukan berdasarkan sortasi indera.
Tepung tapioka kemudian dinilai berdasarkan derajat keputihannya. Biasanya
dibandingkan dengan Barium sulfat sebagai standar yaitu dengan nilai 100 sedang
tapioka no. 1 biasanya mempunyai nilai sekitar 95 dan tapioka no. 2 biasanya
mempunyai nilai 90. Cara-cara penilaian bahan tidaklah ketat sekali, malahan
penilaian panca indera sering lebih menentukan. Rendemen tapioka kasar menjadi
tapioka halus sekitar 95 persen.
Kualitas tapioka
sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:
1.
Warna tepung : tepung tapioka yang baik
berwarna putih.
2.
Kandungan air : tepung harus dijemur
sampai kering benar sehingga kandungan air rendah.
3.
Banyak serat dan kotoran : usahakan agar
banyaknya serat dan kotoran dalam tepung dapat dikurangi. Untuk itu ubi kayu
yang digunakan harus yang umurnya kurang dari 1 tahun karena serat da zat
kayunya masih sedikit dan zat patinya masih banyak.
4.
Tingkat kekentalan : usahakan daya rekat
tapioka tetap tinggi. Untuk itu hindari penggunaan air yang berlebihan dalam
proses produksi. (Marniza,2011 )
Tepung
tapioka yang dibuat dari ubi kayu mempunyai banyak peggunaan, antara
lain sebagai
bahan pembantu dalam berbagai industri. Dibandingkan dengan tepung jagung,
kentang dan gandum atau terigu, komposisi zat gizi tepung tapioka cukup baik sehingga
memungkinkan untuk penggunaan yang lebih luas. Misalnya dalam industri tekstil
dipakai untuk menambah kekuatan benang sehingga mengurangi kerusakan tenun, juga
digunakan sebagai bahan bantu pewarna putih.Tapioka yang diolah menjadi sirup
glukosa dan destrin sangat diperlukan oleh berbagai industri, antara lain
industri kembang gula, pengalengan buah-buahan, pengolahan es krim, minuman dan
industri peragian. Tapioka juga banyak digunakan sebagai bahan pengental, bahan
pengisi dan bahan pengikat dalam industri makanan, seperti dalam pembuatan
puding, sop, makanan bayi, es krim, pengolahan sosis daging, industri farmasi,
dan lain-lain. Ampas tapioka banyak dipakai sebagai campuran makanan ternak. (
Marniza,2011 )
Pembuatan Tapioka( Marniza,2011 )
Bahan:
Ubi kayu
Alat:
1. Pisau
2. Panci
3. Parutan
4. Kain saring
5. Tampah
(nyiru)
6. Alat penumbuk
(alu)
Cara pembuatan:
1. Kupas, cuci
dan parut ubi kayu segar.
2. Tambahkan
air, peras dan saring dengan kain saring.
3. Simpan hasil
saringan selama 1 malam untuk mendapatkan patinya.
4. Kemudian
buang air di atas endapan dan tiriskan hasil pengendapan.
5. Jemur di bawah
sinar matahari sampai kering.
6. Tumbuk lalu
ayak.
Untuk
mempercepat pengendapan, dapat ditambahkan tawas atau aluminium
Sulfat Al2
(SO4)3 sebanyak 1 g/l dan kaporit sebanyak 1 mg/l, sedangkan untuk
memperbaiki
warna dapat ditambahkan natrium bisulfit (Na2SO4) sebanyak 0,1%.
Pengolahan ubi kayu melalui proses fermentasi
merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan protein yang terkandung di
dalamnya. Dengan demikian, tepung singkong yang difermentasi mempunyai
kelebihan daripada tepung singkong biasa, yaitu kandungan protein yang tinggi,
HCN lebih rendah, aplikasi luas, dispersi ke produk pangan lebih mudah dan
mudah membentuk 3 dimensi antar komponen sehingga konsistensi produk menjadi lebih
baik.
B. TEPUNG
MOCAF
Singkong
di beberapa daerah penggunaannya digunakan sebagai makanan membantu untuk
meringankan masalah kelaparan sehingga sangat penting dalam hal keamanan pangan.
Oleh karena itu, dibutuhkan proses untuk meningkatkan nilai protein dan
mengurangi kadar HCN. Penelitian sebelumnya menggunakan proses fermentasi
dimana Rhizopus oryzae dan Saccharomyces cereviseae digunakan
untuk meningkatkan kadar protein dan menurunkan kadar HCN dari produk singkong.
(Tandrianto, 2014)
Tepung
mocaf merupakan komoditas tepung cassava dengan teknik fermentasi
sehingga produk yang dihasilkan memiliki karakteristik mirip seperti terigu,
yaitu putih, lembut, dan tidak berbau singkong. Dengan karakterisrik yang mirip
dengan terigu, tepung mocaf dapat menjadi komoditas subtitusi tepung terigu.
Indonesia memiliki tingkat permintaan yang tinggi terhadap tepung terigu, baik
oleh industri atau rumah tangga. Sedangkan kapasitas produksi tepung terigu di
Indonesia masih rendah, tingginya permintaan tepung terigu menyebabkan harga
tepung terigu menyebabkan harga tepung terigu yang tinggi. Produksi gandum
nasional belum mampu memenuhi total permintaan dalam negeri sehingga dari tahun
ke tahun terjadi peningkatan impor gandum. . (Tandrianto, 2014)
1.
Proses
Pembuatan Tepung Mocaf
Proses pembuatan tepung mocaf dapat
dilakukan dengan beberapa cara, secara singkat dapat dilihat pada diagram alir
berikut ini:
Ubi
kayu dikupas untuk memisahkan ubi kayu dengan kulitnya. Pengupasan dilakukan
dengan menggunakan pisau yang tidak berkarat, agar tidak terjadi reaksi
pencoklatan secara enzimatis. Setelah itu dilakukan proses pencucian untuk
menghilangkan kotoran dan tanah yang masih melekat pada ubi kayu selama
pengupasan. Mutu bahan baku yang akan digunakan akan mempengaruhi produk akhir
yang dihasilkan. Setelah dilakukan proses pencucian, dilakukan proses
pengirisan. Proses ini merupakan proses pengecilan ukuran yang dilakukan untuk
menentukan bentuk yang diinginkan dan memudahkan proses pengolahan selanjutnya.
Bentuk potongan ini akan menentukan luas permukaan kontak dengan panas dan juga
akan mempengaruhi kinerja lactobacillus plantarum sebagai starter mikroba yang digunakan. Selanjutnya dilakukan proses penimbangan,
proses ini bertujuan untuk mendapatkan berat bahan yang tepat. Setelah di
timbang, kemudian di lakukan proses fermentasi dengan menggunakan lactobacillus
plantarum sebagai starter
mikroba. Proses fermentasi ini dapat memacu pertumbuhan lactobacillus
plantarum yang berperan dalam mendegradasi komponen-komponen yang ada dalam
ubi kayu. Akibatnya, karakteristik tepung dapat berubah, menghasilkan aroma dan
citarasa khas yang dapat menutupi aroma dan citarasa ubi kayu yang cenderung
tidak menyenangkan. Setelah proses fermentasi, selanjutnya dilakukan proses
pengeringan Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air bahan, berat bahan,
dan mengawetkan bahan. Proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan sinar
matahari maupun dengan oven. Selanjutnya dilakukan proses penggilingan, proses
penggilingan bertujuan untuk mengecilkan ukuran dan memudahkan proses
pengemasan bahan. Setelah itu dilakukan proses penghalusan, proses ini
menggunakan blender pada kecepatan 2
selama 3 menit. Proses yang terakhir yaitu pengayakan. Proses ini dilakukan
untuk mendapatkan ukuran produk yang seragam, ayakan yang digunakan berukuran
80 mesh. Ukuran produk yang seragam pada bahan akan memudahkan analisis tepung
mocaf. . (Tandrianto, 2014)
2.
Kelebihan Tepung mocaf ( Nuron,2014)
A.
Analisa Kadar Abu
Kadar abu singkong lebih tinggi
dari pada kadar abu tepung mocaf. Hal
ini dapat dilihat dari warna tepung yang dihasilkan, dimana tepung singkong
tanpa melalui fermentasi warnanya agak kuning sedangkan tepung mocaf mempunyai
warna yang lebih putih. Perbedaan warna ini disebabkan karena kemampuan dari
mikroorganisme dalam merubah warna produk fermentasi.
B.
Analisa Kadar Serat
Kadar serat singkong lebih tinggi
dari pada kadar serat tepung mocaf, hal ini dapat dilihat karakteristik
kelembutan tepung yang dihasilkan, dimana tepung singkong tanpa melalui
fermentasi, tepung yang dihasilkan agak kasar sedangkan tepung mocaf lebih
lembut. Hal ini disebabkan karena kemampuan dari mikroorganisme dalam perubahan
tekstur produk fermentasi. Mikroorganisme mampu menghidrolisa serat yang berupa
polisakarida (selulosa) menjadi monosakarida (glukosa).
C. Analisa Kadar Lemak
Terjadi kenaikan kadar lemak dari
tepung mocaf selama proses fermentasi, namun tidak terlalu signifikan. Kenaikan
kadar lemak ini disebabkan karena mikroorganisme dapat memproduksi minyak
mikroba selama proses fermentasi. Mikroorganisme seperti setiap sistem sel
hidup lainnya, menghasilkan lipid atau lemak. Inilah yang disebut dengan
spesies berminyak. Minyak yang kemudian tidak hanya berguna untuk
mikroorganisme dalam hal penggunaaan kembali dalam setiap periode berikutnya
karena kelaparan, tetapi juga dapat dianggap sebagai sumber komoditas dari
minyak. Minyak yang yang dihasilkan disebut sebagai single cell oil (SCO), yang merupakan eufemisme mirip dengan single cell protein yang biasa digunakan
untuk menunjukkan protein yang berasal dari mikroorganisme sel tunggal.
D. Analisa Kadar
Protein
Kadar protein singkong lebih rendah
dari pada kadar protein tepung mocaf. Kenaikan protein ini disebabkan
karena kemampuan dari Saccharomyces cerevisae maupun Rhizopus oryzae untuk
mensekresikan beberapa enzim ektraseluler (protein) kedalam singkong selama
proses fermentasi, atau berkembangnya starter kedalam singkong dalam bentuk
protein sel tunggal selama proses fermentasi. Selama fermentasi bakteri asam
laktat Lactobacillus plantarum menghasilkan enzim proteinase. Enzim
proteinase akan menghidrolisis protein menjadi peptida yang sederhana. Adanya
kenaikan kadar protein diperoleh dari aktivitas enzim protease yang dihasilkan
oleh mikrobia yang ada dalam proses fermentasi.
E. Analisa Kadar Pati
Penurunan kadar pati selama proses
fermentasi baik menggunakan Lactobacillus plantarum, Saccharomyces
cereviseae dan Rhizopus oryzae karena bahan organik (pati) digunakan
untuk memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan mikroorganisme. Bahan organik
yang diuraikan oleh mikroorganisme disebabkan oleh bekerjanya enzim amilase dan
lipase yang bekerja dalam pemecahan amilum dan lemak dari substrat sehingga
kandungan bahan organik selama fermentasi mengalami penurunan. Selama proses
fermentasi pati dihidrolisis menjadi gula sederhana sehingga kadar gula reduksi
menjadi meningkat. Fermentasi menyebabkan karbohidrat lebih mudah dihidrolisis
sehingga gula reduksi akan meningkat, akibatnya daya cerna juga meningkat.
F.
Analisa Kadar HCN
Ada kecenderungan penurunan kadar
HCN pada tepung mocaf selama proses fermentasi berlangsung. Penurunan
kadar HCN ini disebabkan karena mikroorgamisme mampu memecah sianogenik
glikosida dan produk turunannya. Selain itu produk olahan singkong yang
melibatkan proses perendaman dan pencucian dengan air panas, proses fermentasi
dan proses pengeringan dapat menurunkan kadar HCN pada singkong. Proses
perendaman dan pencucian dengan air panas dapat menghilangkan HCN, sebab HCN
mudah larut dalam air dan mempunyai titik didih 29ºC.
Hasil uji statistik menunjukan
bahwa metode ini secara nyata dapat menurunkan kadar HCN dan semakin lama
proses perendaman maka makin tinggi persentase penurunan kadar HCN. Disamping
itu juga cara perendaman dapat melarutkan senyawa linamarin dan lotaustralin,
serta memacu pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menguraikan racun menjadi
asam organik. Metode fermentasi singkong bertujuan inaktivasi enzim linamarase
sehingga tidak bisa mengkatalisis pembentukan HCN.
BAB III
KESIMPULAN
1. Umbi-umbian adalah bahan nabati yang diperoleh dari dalam tanah.
- Ubi
kayu merupakan sumber karbohidrat karena kandungan patinya yang cukup
tinggi.
- Singkong merupakan
penghasil kalori terbesar dibandingkan dengan tanaman lain per harinya.
4.
Isi kandungan
gizi dan komposisi nutrisi bahan makanan singkong yaitu mengandung
energi sebesar 154 kilo kalori, protein 1 gram, karbohidrat 36,8 gram, lemak
0,3 gram, kalsium 77 miligram, fosfor 24 miligram, dan zat besi 1,1 miligram.
Selain itu di dalam singkong juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin
B1 0,06 miligram dan vitamin C 31miligram. Hasil tersebut didapat dari
melakukan penelitian terhadap 100 gram Singkong, dengan jumlah yang dapat
dimakan sebanyak 85 %.
- Bagian-bagian dari ubi kayu terdiri dari akar,batang dan
daun,bunga dan buah, serta bibit,akar pada ubi kayu berguna untuk
menghisap zat-zat makanan dari dalam tanah, untuk mengukuhkan tegaknya
batang pohon, sebagai gudang tempat menyimpan makanan.
- Berdasarkan kadar HCN dan tingkat rasa pahit, tanaman ubi
kayu dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok pahit dengan kadar HCN > 100
ppm, agak pahit dengan kadar HCN 50-100 ppm, dan ubi kayu enak dengan
kadar HCN < 50 ppm.
7. Dalam
Singkong terdapat asam sianida (HCN) yang bersifat racun.
8. Ubi
kayu dapat dimodifikasi menjadi tepung atau pati. Yang dapat meningkatkatkan
nilai jual dan nilai gizi.
DAFTAR PUSTAKA
Askurrahman.
2010. Isolasi dan Karakterisasi
Linamarase Hasil Isolasi dari Umbi Singkong (Manihot esculenta Crantz). Madura : Jurnal Agrointek Vol. 4
No. 2. Hal : 138-145
Amanu, F. N. dan Susanto, H. W. 2014. “Pembuatan Tepung
Mocaf Di Madura (Kajian Varietas Dan Lokasi Penanaman) Terhadap Mutu Dan
Rendemen Mocaf Production in Madura
(Study of Varieties and Plantation Sites) Toward Quality and Yield”. Jurnal
Pangan dan Agroindustri Vol.2 NO.3 hal.161-169.
Herlina, Niken Widya Palupi1, dan Akbar Nur Bani Rusmana. 2012 .Karakteristik
Sosis Daging Ayam yang Dibuat dengan Penambahan Tepung Komposit Tapioka dan
Gembolo Sebagai Bahan Pengisi (The Characterization OfMeat Chicken Sausages Are
Made With The Addition Composite Of Tapioca and Gembolo As Filler.Jurnal AGROTEK.Vol.6, No. 1,hal: 99-111
Ika, Lina
kurniati, Nur Aida. 2012. Pembuatan Mocaf ( Modified cassava flour) dengan
Proses Fermentasi Menggunakan Lactobacillus plantarum, Saccharomyces
cereviseae, dan Rhizopus oryzae. Jurnal Teknik Pomits Vol 1, No 1, hal 1-6
Islami,
Titiek.2015. “Ubi Kayu”. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Marniza dan Medikasari Nurlaili. 2011. Produksi Tepung Ubi Kayu Berprotein: Kajian
Pemanfaatan Tepung kacang Benguk sebagai Sumber Nitrogen Ragi (High Protein
Cassava Flour: The Use of Velvet Bean (Mucuna Prurien) As A Source Of Protein.Jurnal
Teknologi dan Industri Hasil Pertanian Volume 16, No.1
Mutmainah.F.S dan Estiasih, Teti.2016. “Senyawa Bioaktif Pada Umbi-Umbian Lokal Untuk Penurunan Tekanan Darah:
Kajian Pustaka”. Jurnal Pangan
dan Agroindustri Vol. 4 No 1.hal : 377-382.
Nuryani,Sri. 1991. “Budidaya Ubi Kayu”. Jakarta :
Dahara Prize.
Sandi, S. 2012.
Nilai Nutrisi Kulit Singkong yang Mendapat PerlakuanBahan Pengawet Selama
Penyimpanan. Sumatera : Jurnal Penelitian Sains. Vol. 15 No. 2(D). Hal : 88-92.
Simanjuntak,
dahlia.2006. Pemanfaatan Komoditas Non Beras dalam Diversifikasi Pangan Sumber
Kalori.Jurnal Penelitihan Bidang Ilmu Pertanian Vol. 4 No. 1,hal :45-52
Sunarsi, S., dkk. 2011. Memanfaatkan Singkong Menjadi Tepung Mocaf
untukPemberdayaan Masyarakat Sumberejo. Sukoharjo : Seminar
Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Susilawati, Nurdjanah,Siti dan
Putri,Sefanadia. 2008. “Karakteristik Sifat Fisik Dan Kimia Ubi Kayu (Manihot
Esculenta) Berdasarkan Lokasi Penanaman Dan Umur Panen Berbeda“.Jurnal Teknologi
Industri dan Hasil Pertanian Volume 13, No. 2.
Tandrianto,
jeffry, Doniarto Kurniawan.2014. Pengaruh Fermentasi Pada Pembuatan Mocaf (
Modified Cassava Flour) dengan Menggunakan Lactobacillus plantaru terhadap
Kandungan Protein. Jurnal Teknik POMITS Vol 3, No. 2
Widyastuti,Endrika. 2012. “Karakteristik
Umbi-Umbian”. Malang : Agricultural Technologi Brawijaya University.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar